Majalah Inspirasi BSI

Haji Abdul Gaffur Di Serambi Mekah

hajiabdulgaffur_ratio-16x9

Demi kesempurnaan mendalami Islam, Snouck naik haji dan menghafalkan Alquran. Namun, Ia tak pernah benar-benar memeluk Agama Islam. Semua dilakukan semata-mata demi penelitian.
tirto.id – Ketika Haji Abdul Gaffur tiba di Aceh, wilayah tersebut sedang dilanda perang yang sudah berlangsung selama belasan tahun. Sudah banyak korban berjatuhan baik dari Belanda maupun orang-orang Aceh. Bagi orang Aceh, perang melawan orang Belanda itu adalah Perang Sabil. Mereka rela mengorbankan harta dan nyawa untuk perjuangan itu.

Dari sisi Belanda, kantong mereka sudah terkuras habis untuk perlawanan lokal terlama dalam dalam sejarah kolonialisasi Belanda di Indonesia itu. Perang Aceh lebih lama ketimbang Perang Jawa yang dikobarkan Pangeran Diponegoro (1825-1830). Haji Abdul Gaffur lah yang di kemudian hari bisa melihat kesalahan Belanda dalam peperangan di Aceh tersebut.

Nasihat Abdul Gaffur

Abdul Gaffur punya banyak kenalan ulama sejak dia naik haji Mekkah. Dia sering saling berkirim surat dengan para ulama tersebut. Abdul Gaffur tiba di Aceh tahun 6 Juli 1891, setelah Tengku Cik Di Tiro meninggal. Ketika itu, masjid Raya Aceh sudah lama dihanguskan oleh militer Belanda. Itulah yang terus membuat semangat rakyat Aceh sedemikian membara untuk menumpas Belanda. Inilah kesalahan Belanda yang dilihat oleh Abdul Gafur. Ia pun mencoba mengingatkan kesalahan itu kepada pemerintah kolonial.

Abdul Gaffur tak lama tinggal di sana. Dia tiba bulan Juni, dan meninggalkan Aceh pada Februari 1892. Dengan postur Eropanya, serta kemampuan berbahasa Arabnya, serta gelar hajinya, tentu orang-orang Aceh itu akan mengira Abdul Gaffur adalah orang Arab. Setelah Februari 1892, kemungkinan besar Haji Abdul Gaffur ke Betawi (Jakarta).

Abdul Gaffur pun pulang ke rumah Sangkana, wanita asal Cimahi yang dinikahinya sejak 1890, ketika belum lama dia tinggal di Hindia Belanda. Di sana, Gaffur segera menulis pengalamannya di Aceh dan pemikirannya dalam sebuah tulisan berjudul De Atjeher, yang diterjemahkan sebagai Rakyat Aceh. Gaffur tak hanya menulis itu saja, dia punya banyak tulisan soal Islam di Indonesia. Tulisan-tulisan Abdul Gaffur itu ternyata berguna bagi pemerintah kolonial yang sedang pusing menghadapi rakyat Aceh.

Dari Haji Abdul Gaffur, Pemerintah Kolonial mendapat nasihat bagaimana harus menghadapi kerasnya perlawanan orang-orang Aceh. Sebenarnya, Gaffur menyarankan agar militer KNIL Belanda bersikap baik untuk mengambil hati rakyat Aceh. Militer KNIL tak dibenarkan meneror rakyat, membakar kampung dan merampas makanan rakyat Aceh. Soal agama Islam, Gaffur juga mengingatkan pemerintah kolonial dalam menghadapi Islam. Menurut Gaffur ada Islam sebagai agama yang tidak berbahaya, dan ada Islam sebagai kekuatan politik yang bisa berbahaya bagi pemerintah kolonial dan untuk yang satu ini pemerintah tak perlu ragu-ragu untuk serius memberantasnya. Begitu yang terkutip dalam Sejarah Nasional Indonesia V (2008).

Selain meneliti soal Islam di Indonesia, dia juga mengajar bahasa Arab di Betawi. Gaffur dekat dengan pemerintah kolonial dan bangsawan di Pariangan. Istrinya, Sangkana adalah keturunan bangsawan juga. Setelah Sangkana meninggal, Gaffur menikah lagi dengan putri seorang penghulu di Jawa Barat juga. Gaffur sejak 1898 sudah menjadi penasihat urusan pribumi bagi pemerintah kolonial. Orang-orang tersebut, termasuk mertua-mertua yang merelakan anaknya dinikahi Abdul Gaffur, nampaknya sangat yakin jika laki-laki yang mirip orang Arab ini adalah Haji Abdul Gaffur.

Siapa Abdul Gaffur?

Abdul Gaffur yang mirip orang Arab yang kita maksud adalah Christian Snouck Horgronje. Seperti bagi banyak orang Islam, bagi Snouck yang agnostik, naik haji adalah salah satu hal penting dalam hidupnya. Bedanya, Snouck naik haji demi kepentingan ilmiah karena dia seorang akademisi. Sejak muda dia penasaran pada Islam. Hingga Al Quran pun dia pelajari. Begitu juga bahasa Arab. Snouck sendiri terlahir sebagai anak pendeta Belanda. Sejak 1874, Snouck yang berusia 17 tahun, mulai belajar ilmu teologi di Universitas Leiden. Tahun 1880, Snouck merampungkan Het Mekkaansche Feest (Perayaan Mekkah), meski dia belum pernah memasuki kota Mekkah. Mekkah adalah kota tertutup bagi non-muslim.

Begitu Het Mekkaansche feest dirampungkan, Snouck jadi pengajar bagi mahasiswa sekolah pegawai yang akan dikirim ke Hindia Belanda sejak 1881. Kesempatan memasuki Mekkah akhirnya datang padanya pada 1885. Dengan penguasaan bahasa Arabnya, Snouck berhasil meyakinkan para ulama di Turki akan kesungguhan Snouck belajar Islam. Ulama-ulama itu bahkan membimbingnya. Masuk Mekkah tentu akan mudah asal beragama Islam. Menjadi Islam juga mudah, cukup berucap dua kalimat syahadat.

Akhirnya, menurut Hamid Algadri dalam Politik Belanda terhadap Islam dan keturunan Arab di Indonesia (1988), Snouck berhasil masuk Mekkah dan terkesan bersungguh-sungguh seperti orang berhaji, hingga dianggap telah masuk Islam. Menurut buku Augustus Rally, Orang Kristen Naik Haji (2011) Snouck tinggal enam bulan di Mekkah. Snouck bahkan ikut membuat foto-foto pemandangan musim haji di Mekkah.

Tentu saja, di mata orang-orang Islam, Snouck punya pandangan yang membuatnya tak disukai umat Islam Indonesia. Seperti ditulis dalam Sejarah Nasional Indonesia V, “Snouck Horgronje tidak menaruh kepercayaan pada Islam sebagai kekuatan yang dapat membawa kemajuan. Menurut Snouck Horgronje, Indonesia harus mengalami perubahan untuk mewujudkan suatu masyarakat modern.”

Menurut surat Snouck pada kawan kuliahnya, Carl Bezold, bertanggal 18 Februari 1886, Snouck hanya berpura-pura saja saat mendalami Islam. Snouck tak jauh beda dengan Wyn Sargent yang rela jadi istri Kepala Suku Dani Obahorok demi meneliti kehidupan suku Analaga. Kemampuan Snouck meneliti dengan menyamar sebagai Muslim diakui matang oleh Vogel, peneliti Belanda lain.

“Banyak petualang yang menyamar dan beberapa orang berpengetahuan telah mengunjungi kota suci, tetapi Snouck Hurgronje, tiada keraguan adalah yang terbaik persiapannya. Dia hidup mengikuti cara hidup seorang Muslim dengan nama Abdul Gaffar,” aku Vogel dalam Bukti-bukti Kebohongan Orientalis (1996)

(pet/nqm/tirto.id)

Majalahinspirasi.net adalah hasil karya dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Inspirasi BSI. Sekaligus sebagai pusat informasi Mahasiswa BSI.

Jalan Kayu Jati V No. 2, Rawamangun, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220
Call: 08121947322
Email: info@majalahinspirasi.net